Ramayana (RALS) vs Matahari (LPPF): Saham Dividen di Sektor Department Store yang Sudah Murah

Berikut adalah Artikel yang di Audio kan, bagi teman2 yang tidak memiliki waktu dan kesempatan untuk membaca bisa langsung mendengarkan Artikel berbentuk Audio di web ini.

Pendahuluan

Sektor department store sering disebut “sunset”. Alasannya klasik: pandemi memukul trafik offline, lalu marketplace online dianggap akan mengambil alih semuanya.

Namun saya melihatnya agak berbeda. Justru ketika sebuah sektor dibenci dan dianggap selesai, di situlah biasanya valuasi menjadi murah dan menarik untuk dilihat dengan kepala dingin. Bukan untuk cari cerita growth besar, tapi untuk mencari kombinasi yang jarang: bisnis yang masih jalan, recovery yang nyata, dan dividen yang tetap mengalir.

Dua emiten yang paling sering dibandingkan di sektor ini adalah Ramayana (RALS) dan Matahari (LPPF). Keduanya sama-sama saham dividen. Tapi karakternya sangat berbeda.

Tulisan ini fokus pada variabel yang kita pakai saja: Total aset, ekuitas, liabilitas, revenue, net profit, PBV, NPM, ROE, dan DER.


Ringkasan Emiten Singkat

Ramayana (RALS) dan Matahari (LPPF) adalah pemain department store dengan target pasar yang tidak persis sama, tetapi tetap berada dalam satu payung: ritel offline yang menjual produk-produk yang harus “pas di badan” seperti pakaian, sepatu, dan aksesoris.

Yang menarik: di saat sektor ini dianggap kalah oleh online, data menunjukkan pemulihan terjadi. Dan sekarang sudah lebih dari 5 tahun sejak pandemi. Jadi fase “shock” utama sudah lewat, dan kita bisa menilai dengan lebih objektif.


Snapshot Fundamental: RALS vs LPPF (data yang kita pakai)

Berikut ringkasan data dari snapshot fundamental (angka dibulatkan agar mudah dibaca).

Metric RALS (Ramayana) ~ LPPF (Matahari)

Total Aset ~Rp4,4 T ~Rp4,5 T

Total Ekuitas ~Rp3,5 T ~Rp0,332 T

Total Liabilitas (Aset – Ekuitas) ~Rp0,9 T ~Rp4,17 T

Revenue ~Rp2,5 T ~Rp5,9 T

Net Profit ~Rp363,9 B ~Rp801,5 B

PBV ~0,83x ~11,39x

NPM (Net Profit / Revenue) ~14,6% ~13,6%

ROE ~10,16% ~241,44%

DER ~0,27x ~13,02x

Catatan penting: angka ROE dan PBV terlihat “ekstrem” pada LPPF karena ekuitasnya sangat kecil dibanding skala bisnisnya. Ini bukan berarti LPPF otomatis lebih hebat. Ini lebih banyak bicara soal struktur modal (leverage).


Neraca: Inilah Pembeda Terbesar (Ekuitas, Liabilitas, DER)

Kalau saya harus memilih 1 bagian yang paling penting dari seluruh perbandingan ini: neraca.

RALS terlihat jauh lebih defensif:

  • Ekuitas besar (sekitar Rp3,5T dari aset Rp4,4T).
  • Liabilitas relatif kecil (sekitar Rp0,9T).
  • DER rendah sekitar 0,27x.

Ini menggambarkan perusahaan yang “dibangun dari modal sendiri”. Manajemennya terasa old money: konservatif, tidak agresif pakai utang, dan fokus aman.

Sebaliknya, LPPF:

  • Aset memang besar, tetapi ekuitasnya kecil (sekitar Rp332B).
  • Liabilitas sangat besar (sekitar Rp4,17T).
  • DER sangat tinggi sekitar 13x.

Artinya, LPPF lebih sensitif terhadap tekanan: perubahan biaya, suku bunga, atau kondisi ritel yang melemah bisa terasa lebih keras dibanding perusahaan yang neracanya ringan.

Ini bukan menyimpulkan LPPF jelek. Tapi ini menjelaskan kenapa profil risikonya jelas berbeda.


Revenue dan Net Profit: LPPF Lebih Besar, Tapi Itu Bukan Satu-satunya Jawaban

Dari sisi skala penjualan, LPPF unggul telak:

  • Revenue LPPF sekitar Rp5,9T.
  • Revenue RALS sekitar Rp2,5T.

Laba bersih juga LPPF lebih besar:

  • Net profit LPPF sekitar Rp801,5B.
  • Net profit RALS sekitar Rp363,9B.

Namun yang menarik: margin laba bersih (NPM) keduanya relatif sama-sama bagus:

  • RALS sekitar 14,6%.
  • LPPF sekitar 13,6%.

Ini menunjukkan bahwa di fase recovery, keduanya mampu menghasilkan profit yang cukup sehat terhadap penjualannya.

Jadi “omzet lebih besar” tidak otomatis berarti “lebih aman”. Omzet harus dibaca bersama struktur neraca.


ROE Tinggi: Bagus, Tapi Harus Dibaca Benar

ROE LPPF terlihat sangat tinggi (ratusan persen). Di atas kertas ini tampak “wah”.

Tapi ROE setinggi ini umumnya terjadi karena satu hal: ekuitasnya sangat kecil. Dengan ekuitas yang kecil, laba bersih akan terlihat “meledakkan” ROE.

Masalahnya, ROE yang tinggi akibat ekuitas yang kecil bukan selalu tanda kualitas. Ini sering merupakan tanda leverage yang sangat besar.

Sebaliknya, ROE RALS sekitar 10% terasa lebih wajar dan sehat untuk bisnis defensif. Ini mencerminkan profit yang realistis terhadap ekuitas yang besar.


PBV: Murah dengan Cara yang Berbeda

RALS berada di PBV sekitar 0,83x. Secara sederhana, pasar menilai RALS masih di bawah nilai buku.

Ini biasanya menjadi sinyal bahwa pasar belum memberi valuasi tinggi, entah karena sektor tidak disukai, sentimen rendah, atau dianggap “sunset”.

LPPF punya PBV yang tinggi (11x+), bukan karena pasar menganggap asetnya super premium, melainkan karena ekuitasnya kecil. Jadi PBV LPPF kurang adil dipakai membandingkan “murah vs mahal” secara langsung.

Di sinilah alasan kenapa Axet lebih nyaman menilai RALS: PBV-nya lebih masuk akal sebagai alat ukur historis, dan struktur ekuitasnya besar.

Jika dilihat dari dividen terakhir yang dibagikan, yield kedua saham ini sebenarnya sama-sama menarik.

Dengan dividen sekitar Rp60 per saham dan harga di kisaran Rp400-an, dividend yield RALS berada di kisaran belasan persen, kurang lebih sekitar 13–15% secara kasar.

Sementara itu, LPPF dengan dividen sekitar Rp300 per saham dan harga di kisaran Rp1.600–1.700-an juga menghasilkan dividend yield yang relatif tinggi, berkisar di area 16–18%.

Angka ini menunjukkan bahwa baik RALS maupun LPPF saat ini sudah masuk kategori saham dividen dengan yield besar, terutama jika dibandingkan dengan rata-rata yield pasar secara umum.

Perbedaannya bukan pada besar kecilnya yield semata, melainkan pada karakter bisnis dan struktur keuangan yang menopang dividen tersebut.


Kenapa Sektor Department Store Masih Punya Pasar yang Konsisten

Menurut saya, marketplace online tidak akan bisa menghabisi department store sepenuhnya.

Alasannya sederhana dan sangat “manusiawi”:

  • Pakaian, tas, sepatu adalah barang yang harus pas di badan.
  • Ukuran M atau L antar brand sering berbeda.
  • Bahan dan warna di layar tidak selalu sesuai realita.
  • Banyak orang tidak suka trial & error + retur.

Ada segmen konsumen yang akan tetap memilih melihat langsung. Segmen ini mungkin tidak booming, tapi konsisten. Dan konsistensi inilah yang menjaga bisnis department store tetap hidup.


Kenapa Axet Lebih Memilih RALS (dibanding LPPF)

Saya tidak mengatakan LPPF jelek. LPPF masih menghasilkan laba besar, revenue besar, dan bisa menarik untuk investor yang siap menghadapi volatilitas.

Tapi Axet lebih condong ke RALS karena:

  • Neraca lebih sehat (ekuitas besar, DER rendah).
  • Lebih defensif dan stabil.
  • PBV lebih nyaman secara historis.

Sebagai catatan pribadi, Axet punya alokasi di RALS dengan average sekitar Rp400 per saham.

Dan ya, untuk yang suka roller coaster, grafik LPPF biasanya lebih “menghibur” 😁


Kesimpulan

RALS dan LPPF sama-sama saham dividen di sektor yang dibenci pasar. Ini biasanya membuat valuasi menjadi murah secara sektoral, dan saat seperti ini justru layak diperhatikan.

Namun keduanya berbeda karakter:

  • RALS: lebih stabil dan defensif dari sisi neraca.
  • LPPF: skala lebih besar, laba lebih besar, tetapi leverage jauh lebih tinggi.

Keputusan tetap kembali ke masing-masing investor. Saya pribadi lebih suka pendekatan tenang dan defensif, karena tujuan saya bukan mencari sensasi, tapi mencari ketahanan.


Catatan Pribadi Investor

Tulisan ini adalah catatan pribadi saya sebagai investor jangka panjang. Bukan rekomendasi beli atau jual. Setiap investor memiliki profil risiko masing-masing.

Disclaimer

Semua keputusan investasi sepenuhnya tanggung jawab masing-masing investor. Data dapat berubah mengikuti laporan keuangan terbaru dan kondisi pasar.

Analisa Fundamental INTP 2025: Value Stock Stabil di Sektor Semen Indonesia

Leave a Reply

Discover more from Axet Indonesia

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading